05 January 2009

Ujian Keikhlasan

Hadist I

“Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.”

Hadist II

Dari 'Ady bin Hatim, Rasul bersabda :
Sekelompok manusia diperintah meninjau hari besok di hari kiamat,
hingga mereka menciumi bau harumnya, dan melihat keindahan bangunannya tetapi secara mendadak diusir, disuruh menjauhinya karena mereka bukan ahlinya, mereka sangat menyesal dan berkata : “Ya Tuhan, kenapa kami disuruh meninjau balasan (sorga) kekasihMU, sedangkan balasanku adalah neraka ?”
Allah berfirman : “Aku perlakukan demikian padamu, adalah sebagai balasanmu dahulu, di tempat sepi kamu lakukan dosa-dosa besar, tetapi di tengah-tengah mata umum berlagak ahli ibadah, yang sangat tekun, amal ibadahmu sekedar ingin pujian manusia, tidak takut kepadaKU, maka tiba saatnya sekarang kamu merasakan kepedihan siksaanKU dan jauh dari SorgaKU.”

Niat Ikhlas adalah salah satu syarat diterimanya suatu ibadah. Begitu pentingnya niat ikhlas ini, sampai-sampai Allah menggolongkan orang yang tidak ikhlas dalam beribadah (tidak karena Allah, tapi karena manusia – Riya) sebagai syirik kecil, padahal dosa syirik, disebutkan dalam Al Quran, merupakan dosa yang tidak dapat diampuni Allah, kecuali Allah menghendakinya. Kalau dijabarkan Mengapa Niat Ikhlas merupakan faktor yang sangat fundamental, adalah :

  1. Menjadi salah satu syarat diterimanya amal dan ibadah di sisi Allah.
  2. Jika tidak Ikhlas, jangankan pahala, malah mendapat dosa. Contohnya dosa Riya.
  3. Jika tidak ikhlas akan mudah mendapatkan  kekecewaan dan sakit hati.

Untuk point pertama dan kedua itu hak Allah sepenuhnya untuk menentukan, sedangkan untuk point ketiga kita bisa membahasnya.

Mengapa orang yang ikhlas akan mudah kecewa dan sakit hati ? Sebab amalan yang diniatkan selain karena Allah, pasti karena manusia. Padahal manusia itu tempatnya salah dan lupa, serta sering tidakmenepati janji secara sengaja. Jadi beramal dengan mengharapkan mendapat pujian, balasan dan dukungan dari manusia merupakan landasan amal yang rapuh. Yang jika ternyata akhirnya pujian, balasan dan dukungan yang diharapkan dari manusia tidak didapat maka kecewa dan sakit hati yang akhirnya di dapat.

Contoh kasus, jika melakukan amal baik, misalnya, bakti sosial yang dilakukan oleh suatu partai politik, dengan harapan dikemudian hari para peserta bakti sosial tersebut akan memberikan dukungan suaranya di PEMILU, dan ternyata dukungan tersebut tidak didapatkan maka partai politik tersebut akan merasakan kekecewaan. Bakti sosial tentu saja mengorbakan dana, waktu dan pikiran, ternyata pada akhirnya tujuan utamanya, mendapatkan dukunga suara PEMILU tidak didapatkan, akhirnya yang didapat rasa kecewa, bahkan bisa sampai marah-marah, mutung (bhs Jawa), berniat tidak akan mengadakan bakti sosial lagi. Padahal seharusnya, partai politik, dijadikan sarana bukannya tujuan. Dengan menjadi anggota partai politik memberikan kesempatan yang luas untuk beramal baik, karena banyak rekan-rekan yang dapat diajak berkerja sama, mudah mendapatkan bantuan, dan adanya organisasi yang jelas sehingga mempermudah jalannya suatu kegiatan.

Oleh itu, rasa kecewa muncul setelah sesorang melakukan suatu amal perbuatan bisa menjadi indikasi bahwa niat awalnya tidak ikhlas.