19 May 2011

Ironi Hari Kebangkitan Nasional

Kebangkitan Nasional
Tanggal 20 Mei 2011 akan segera kita jelang. Hari yang kita kenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional ini telah berumur lebih dari 100 tahun (tepatnya 103 tahun). Seratus tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi bangsa Indonesia untuk mendapat pengalaman ‘bangkit’. Bahkan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia di tahun 2011 ini baru berumur 66 tahun, sehingga bangsa Indonesia sudah mulai bangkit jauh-jauh hari sebelum menyatakan kemerdekaannya (1908 - 1945). Kalau kita analogikan negara Indonesia sebagai sebuah perusahaan maka usia 100 th bagi sebuah perusahaan yang masih berdiri menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah mempunyai pengalaman yang sangat cukup untuk mempertahankan keberadaan diri (survive) dan mengembangkan usahanya. Tentu saja perusahaan yang bertahan hingga usianya 100 th mempunyai karyawan yang loyal karena kesejahteraannya menjadi salah satu hal penting yang diperhatikan pihak manajemen perusahaan.
Sekarang kita perhatikan bangsa kita tercinta ini, kemampuan mempertahankan diri untuk tetap ada, kelihatannya mulai melemah. Lihatlah fenomena begitu banyaknya warga negara Indonesia yang bekerja ke luar negeri (TKI) dan orang-orang cerdas berpendidikan tinggi yang bekerja untuk negara lain. Ini menunjukkan mereka, yang memutuskan bekerja ke luar negeri, tidak mendapatkan kesejahteraan di negeri mereka sendiri Indonesia dan yang tidak adanya penghargaan atas pendidikan yang telah didapat. Sepertinya rakyat Indonesia (analoginya sebagai karyawan) sudah mulai tidak betah karena kesejahteraannya tidak diperhatikan pemerintah (analoginya pihak manajemen perusahaan). Maka wajar ketika rakyat memutuskan untuk berpindah ke negara lain untuk memperbaiki kesejahteraannya, bahkan mungkin kalau memungkinkan pindah kewarganegaraan.
Lalu ‘Kebangkitan’ macam apa yang kita peringati sekarang ini ?
Kebangkitan kemiskinan ? Karena semakin banyak orang yang kelaparan, menderita gizi buruk, PHK di mana-mana, belum selesainya kasus lumpur lapindo yang semakin meluaskan penderitaan rakyat Sidoarjo.
Kebangkitan kebodohan ? Karena biaya sekolah begitu mahal sehingga tidak terjangkau bahkan universitas negeri kini statusnya berubah menjadi BHMN sehingga biaya kuliah menjadi mahal karena subsidi pemerintah dicabut.
Kebangkitan harga-harga ? Dengan alasan penghematan, pencabutan subsidi, naiknya harga minyak dunia, maka harga-harga pun segera bangkit naik, mulai dari rencana naiknya harga BBM, tarif tol, tarif listrik progresif dan insentif. Yang semuanya semakin menyengsarakan rakyat.
Kebangkitan perlawanan ? Amati peristiwa demonstrasi yang merebak di mana-mana sebagai ungkapan rasa protes terhadap ketidakadilan. Jika pemerintah tidak mensikapi dengan benar kasus demonstrasi ini maka bisa menumbuhkan bibit-bibit sosialis.
Kebangkitan Nasional yang kita inginkan bersama tentunya Kebangkitan yang positif, kebangkitan di semua aspek kehidupan sehingga bangsa ini semakin sejahtera bukan sebaliknya. Mari kita turut memberikan sumbangan apa saja sesauai kemampuan terhadap negeri ini agar bangsa Indonesia benar-benar Bangkit menuju kesejahteraan dan kebahagiaan.