02 May 2011

Ironi Hari Pendidikan Nasional

Pendidikan Nasional Hari ini tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Entah yang keberapa puluh kali hal ini diperingati dan tidak begitu penting untuk tahu sudah keberapa kalinya hardiknas ini. Yang lebih penting adalah sudah seberapa besar penghargaan dan prioritas bangsa ini terhadap dunia pendidikan. Saat mendengar kata ‘pendidikan’, jangan batasi pikiran kita dengan pendidikan yang bersifat formal yang disimbolkan dengan gedung sekolah dan ruang kelas. Tapi makna pendidikan disini artinya menyeluruh meliputi pendidikan akademik, agama dan moral. Dan ketiga bidang pendidikan tersebut harus diberikan secara seimbang kepada diri manusia. Sebab jika hanya pendidikan akademik yang diutamakan maka lahirlah manusia manusia cerdas yang miskin moral dan nilai-nilai keagamaan sehingga berkembanglah kelompok manusia korup, perampok, pemerkosa, mudah putus asa dan kejelekan-kejelekan lain yang justru semakin membahayakan saat sifat-sifat jelek itu menempel pada manusia yang cerdas secara akal saja.

Faktanya sekarang, ketiga bidang pendidikan di atas (akademik, agama. dan moral) tidak menjadi prioritas bangsa kita ini. Salah satu penanggungjawab terbesar dunia pendidikan, pemerintah, katanya sudah memberikan subsidi minimum sesuai undang-undang dasar, yaitu subsidi sebesar minimum 20%, namun faktanya banyak yang bertolak belakang. Lihatlah betapa mahalnya biaya sekolah dan kuliah saat ini, jangankan institusi sekolah swasta yang begitu komersil, institusi sekolah milik pemerintah (negeri) saja sudah semakin tak terjangkau. Sebagian universitas negeri telah menjadi BHMN (Badan Hukum Milik Negara) sehingga subsidi pemerintah dipangkas habis. Efeknya tidak hanya menyengsarakan peserta didik tapi juga para pengajar dihargai sangat rendah dari sisi gajinya. Maka wajar ketika para guru dan dosen lebih banyak ngobyek diluar dari pada konsentrasi kepada peserta didiknya.

Sementara penanggungjawab pertama pendidikan yaitu orangtua, banyak yang tidak mempunyai kemampuan finansial untuk memenuhi kebutuhan pendidikan akademik bagi anak-anaknya karena mahalnya biaya sekolah, boro-boro untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, untuk makan saja sudah sangat susah. Sementara orang tua yang mampu memenuhi kebutuhan pendidikan akademik anak-anaknya ternyata tidak memberikan pemenuhan dua bidang pendidikan yang lain yaitu pendidikan agama dan moral. Para orang tua terlalu sibuk dengan karinya sehingga menyerahkan pendidikan agama dan moral kepada pembantu atau babysitternya. Akibatnya, anaknya justru menjadi beban hidup orangtuanya dikemudian hari karena kelakuannya yang buruk sebagai hasil dari rendahnya pendidikan agama dan moral yang diterima anak-anaknya tersebut.

Lalu kontribusi apa yang bisa bisa kita berikan kepada dunia pendidikan nasioanl Indonesia. Tidak usah berpikir terlampau tinggi, berkontribusilah sesuai kemampua yang kita miliki. Jika Anda mengenal internet, sebarkanlah ilmu yang bermanfaat melalui internet, misalnya melalui website atau blog. Jika Anda seorang yang mempunyai pengetahuan agama, sebarkanlah ilmu agama tersebut melalui forum-forum kajian, organisasi atau sarana apa saja yang bisa dijadikan media penyebaran kebaikkan.

Jadi marilah kita cerdaskan bangsa ini dengan pengetahuan akademik, muliakan diri, keluarga dan generasi yang akan datang dengan nilai-nilai agama dan moral sehingga di kemudian hari bangsa Indonesia ini tidak menjadi bangsa yang selalu meratapi dan mengeluhkan ke ironian dirinya tetapi menjadi bangsa yang maju dan memberikan sumbangan kepada peradaban kebaikkan di muka bumi ini.